Kamis, 10 Mei 2018

Teman Senja



Mendung menyerbu sore
Senja menjadi gelap
Bersiap meluapkan hujan sebanyak banyaknya
Aku dengan pendirianku 
Tetap tinggal
Tak peduli betapa hati yang kemudian akan tanggal
Hatimu... Aku Menginginkannya.. 

Minggu, 10 Desember 2017


sumber: national geographic

Ramai Langit Senja Semarang

Kilatan cahaya emas berdentum berkali-kali
Gemuruh menambah ramai suasana
Semburat sinar berbentuk bak akar tumbuhan tak beraturan
Pada hitungan ke lima
Muncul Silau celurit yang dipecutkan
Riuh...Gaduh...Gemuruh..
Ingin aku melompat dari gedung tinggi ini dan menangkap satu petir yang sedang meletus dengan tanganku
Lihat.. betapa kacau nampak dari jauh
Tapi pandanglah perlahan-lahan. .
Lebih tepatnya. . .
Ia sesuatu yang mengerikan tapi indah
Ia bisa membunuhmu tapi kau ingin memeluknya
Dia bisa dengan mudah menghanguskan seisi kota tapi kau mau terbakar bersamanya
Ketika orang lain menatapmu sebagai bencana
Tak ku temukan itu di dirimu
Aku melihatmu dengan cara yang berbeda
Orang lain mungkin mengumpat tentangmu
Berisik!!
Enyahlah...!!!
Atau.. tidak bisakah kau hentikan itu!
Namun aku sama sekali tak keberatan atas apapun
Aku duduk di atas jendela lantai tiga
Tengah tersenyum menyaksikan semuanya
Menatapmu dan sembari tak henti berkata
Tuhan terimakasih mengizinkanku untuk melihatnya
Sementara atau selamanya
Sama sekali bukan masalah
Ku tekankan sekali lagi.. aku tak pernah keberatan atas apapun
Bersumber dari elektron negatif di awan yang mencari proton di bumi
Lalu boom!!!
Segaduh apapun kamu
Terimakasih telah berkunjung di langit semarang
Mirip dengan gaduhnya rindu
Yang berkecambuk dihatiku sekarang.







jangan lupa kunjungi website saya yang lain yaaa:
sampai jumpaa☺

Sabtu, 02 Desember 2017

jangan lupa kunjungi website saya yang lain yaaa:
sampai jumpaa☺
Pelukan Peta Kecil

Semilir angin dari selatan membawa kabut untuk kota ku
Redupkan cahaya
Sirnakan hangatnya cengkrama
Liupan asap lilin penuhi pembicaraan kita malam itu
Asap...
Perhatikanlah lagi.. bukankah ia indah?
Terhembus oleh angin lalu meliuk bak gadis kecil yang menari balet
Swiiiiisssshhh...
Lebih indah dari bualan penyair..
Remang-remang api.. melesat sempurna kuasai suasana
Gelapnya ruang tak segelap dinginnya relung yang butuh rasa hangat, rasa sedikit saja
Dari sikapmu aku tahu, kau sangat mudah dibaca
Kau ingin berteriak memecah malam, tapi kau tidak
Kau ingin melempar menendang bangku di dekatmu, tapi kau tidak
Yang kau lakukan, berjalan-jalan dalam pikiranmu sendiri
Memilah-milah mana yang sebaiknya ya atau tidak kau lakukan
Pikiranmu terlalu takut mengambil pemecahan masalah
Kau takut tidak cukup terang untuk melihat cahaya
Tapi dengarlah.. sebentar saja..
Ambil nafasmu dalam-dalam.. lalu dengarkan aku..
Bila kau butuh seseorang sebagai navigasi mu
Aku akan berjalan bersama
Bila kau butuh tangan untuk  menarikmu dari jurang
Kau bisa gunakan tanganku
Tak ku bilang aku rindu
Tak ku bilang senyummu tetap terlihat bahkan dalam tidur terlelapku
Lidah perempuan tidak sebercanda itu

Selasa, 21 November 2017

Kepada Hari Yang Membuatmu Pergi

 

Rintik Hujan sangat berbeda hari ini
Aku yang dulu menatapmu sebagai rintik yang hanya basah
Aku melihat hal yang berdeda sekarang
Melihat mu sebagai rasa
Pengingat sejati bagi hati yang rindu
Ajari aku cara menangani perasaan yang meluncat-luncat seperti percikan plasma saat direaksikan
Sungguh Sudah ku bilang hari itu
Jangan menatapku seperti itu
Karena yang kau lakukan hanya membuat jantungku ingin lompat ke perut
Tidak kah kau tau bahwa sedikit saja dari ucapanmu
Berpengaruh terhadap segala tindakanku
Kau bilang..... hentikan kode-kode gila ini atau aku pergi
Tidak kah kau paham jika rasa memang suka bercanda
Sekuat apapun kita menolak
Yang singgah akan hanya singgah
Yang menetetap sudah pasti datang
Dan yang pergi tidak bisa dicegah lagi
Dariku yang rindu denganmu terhalang akan jarak waktu dan rasa rindu itu sendiri